Assalammu’alaikum
Saya aktif di gerakan kepanduan/kepramukaan. Yang ingin saya tanyakan,
bagaimana hukum dan kedudukan gerakan kepanduan dalam sudut pandang Islam.
Terima kasih
(Blackkids – Via Kontak)
Jawab:
Wa’alaikumussalam wr. wb.
Soal kepanduan atau kepramukaan, menurut saya, baik saja. Di situ diajarkan kemandirian, kegotongroyongan, kerja sama atau tolong menolong, kerja tim, berbagai keterampilan, kesetiakawanan, kejujuran, kedermawanan, dan lain-lain. Dari situ tidak sedikit pondok pesantren di Indonesia ini yang mengajarkan kepramukaan. Bahkan ada pondok pesantren yang cukup menonjol di bidang ini sampai sering sekali mengikuti jambore internasional di berbagai negara. Bukan hanya itu, pesantren tersebut juga sering mendapat penghargaan nasional maupun internasional.
![]() |
| Dok. PraJu - Pramuka |
![]() |
| Hasan Albana Pencetus Kepanduan Mesir |
Di sejumlah negara Muslim Timur Tengah juga ada gerakan kepramukaan. Di Aljazair, untuk sekadar contoh, ada Al-Kasysyâfah al-Islâmiyyah al-Jazâ’iriyyah (Kepanduan Islam Aljazair). Di Kuwait ada Jam‘iyyat al-Kasysyâfah al-Kuwaitiyyah (Gerakan Kepanduan Kuwait). Di Mesir ada al-Harakah al-Kasyfiyyah al-Mishriyyah (Gerakan Kepanduan Mesir). Bahkan gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir juga mempunyai organisasi kepanduan. Di Arab Saudi ada Jam’iyyat al-Kasysyafah al-’Arabiyyah as-Su’udiyyah (Asosiasi Kepanduan Arab Saudi). Di Inggris ada gerakan kepanduan dan telah memberi kebebasan kepada peserta perempuan Muslimah untuk mengenakan seragam khusus sesuai ketentuan agama mereka. Dan lain-lain.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa dengan kepramukaan kita ingin mendapat penghargaan. Atau ingin melanglang buana ke manca negara. Bukan itu maksud/ tujuan utama saya! Tetapi dari pengamatan yang saya lihat, alumni pesantren yang kepanduannya sangat menonjol itu rata-rata berhasil dalam hidup bermasyarakat. Salah satunya ya berkat latihan kepramukaan itu.
Dan jangan salah, tokoh pencetus kepanduan Indonesia adalah H Agus Salim, seorang Muslim yang pejuang.
Mungkin ada hal-hal dalam kepramukaan yang dianggap kurang ada nilai keislamannya. Seperti, misalnya, rok perempuan pendek dan tidak ada kewajiban mengenakan jilbab. Tinggal kita beri saja rok yang panjang dan jilbab. Kalau dalam kepramukaan umum pada saat perkemahan terjadi pergaulan antara pramuka remaja putri dan putra secara agak bebas, tinggal kita beri kontrol agar tidak terlalu bebas. Di situlah justru letak kita “bermain”. Dan banyak “inovasi” yang bisa kita lakukan di dalam kepanduan.
Saya sendiri pernah mengikuti Pelatihan Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar dan Tingkat Menengah.
Demikian, Wallahu a’lam.
Muhammad Arifin
Sumber : www.muhammadarifin.net




0 komentar:
Posting Komentar